Pertanian & ikon Lamongan

Diakui atau tidak, atau entah ini pemaksaan atau bukan, Lamongan menjadi penyumbang nama “agraris” untuk Indonesia. Meskipun hanya nol koma nol nol sekian persen. Tapi uang satu juta tidak akan bernilai satu juta jika kehilangan seratus rupiah bukan? Dari sekian cabang pertanian, Lamongan memilikinya. Perkebunan di daerah selatan Lamongan, meski tidak semua jenis tanaman kebun ada di sana. Perikanan air tawar di daerah bantaran sungai Bengawan Solo serta daerah anak sungainya. Pun ada pasar ikan di daerah pemerintahan sebagai tempat pemasaran ikan tambak. Perikanan laut (tambak maupun pencarian di laut oleh nelayan) di utara Lamongan yang merupakan daerah pantai utara Jawa, dan memiliki TPI untuk pemasaran hasil lautnya. Sawah yang luas dengan hasil padi dan jagung sebagai komoditas utama, umbi-umbian sebagai komoditas sampingan, di hampir seluruh wilayah Lamongan. Serta peternakan ayam dan bebek skala kecil di suatu daerah yang tidak diketahui letaknya (oleh penulis), tapi nyata keberadaannya.

Salah satu bagian wilayah Lamongan yang paling kecil (desa maksudnya-lebih tepatnya desa si penulis) merupakan daerah pertanian dalam arti yang sempit dan daerah perikanan_tambak (selanjutnya memakai istilah ini untuk budidaya perikanan non laut). Pun pembahasan ini lebih menitikberatkan pada tambak daripada sawah, baik di desa maupun kabupatennya).

Seperti kebanyakan persawahan lain, sawah di desa itu ditanami padi saat musim hujan dan jagung saat musim kemarau. Sawah yang lebih sempit di tanami umbi jalar, bengkoang, blewah, semangka. Tapi karena digunakan terus menerus, produktivitas tanah makin lama makin menurun, ditambah dengan hama yang sepertinya ingin eksis, ikut ambil bagian dalam merusak tanaman, begitu pula di daerah-daerah lain (desa.red) sepengetahuan penulis. Tampaknya sawah harus di rehabilitasi, entah bagaimana caranya-masih dalam proses pencarian solusi.

Desa penulis berada di bantaran sungai Bengawan Solo yang memberikan sumbangan pasokan air untuk keperluan persawahan, dan tentunya pertambakan. Tambak di sana umumnya ditanami bibit bandeng, nila dan udang. Sedangkan ikon Lamongan yang lain (ikon Lamongan adalah bandeng dan lele),dibudidayakan di kolam/empang, tempat yang teduh.

Penulis tidak mengetahui apa yang di maksud dengan “produk unggulan”. Apakah jika produk pertanian di sematkan nama daerahnya (seperti jeruk bali) ?. Atau apakah itu olahan hasil pertanian yang juga disematkan nama daerahnya (seperti jenang kudus) ? Ataukah produk/hasil pertaniannya merupakan penyumbang terbesar untuk pemenuhan konsumen ? Atau yang terkenal dari daerah tersebut (seperti Malang yang terkenal dengan apel) ?

Jika yang dimaksud dengan ‘produk unggulan’ adalah ikon dari daerah tersebut, maka seperti yang sudah di beritahukan di atas, ikon Lamongan adalah bandeng dan lele. Tapi tidak pernah terdengar ‘bandeng/lele Lamongan’, ’bandeng presto Lamongan’, ’pecel lele Lamongan’. Pun tidak pernah dengar seorang berkata “aku bawa bandeng dan lele, oleh-oleh khas Lamongan”.

Bukan maksud merendahkan Lamongan, itu memang kenyataan. Tapi dari semua paparan yang membosankan di atas, penulis menjadikan “perikanan” sebagai produk unggulan Lamongan, tanpa spesifikasi ikan yang diunggulkan. Tidak bolehkah? Karena bagaimanapun, ikon suatu daerah dipilih tidak tanpa adanya sebab. Bandeng dan lele dipandang penulis sebagai perwakilan dari budidaya perikanan yang tersebar di Lamongan.

Categories: artikel | Leave a comment